Rabu, 28 Oktober 2015
KALIMAT AJAIB DARI YA HAYYU YA QAYYUM
Ternyata ada faedah luar biasa dari nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum. Apa itu?
Sebagian ulama memasukkan nama Al-Hayyu Al-Qayyum dalam nama Allah yang agung (ism Allah al-a’zham) seperti yang dipilih oleh Ibnul Qayyim dalam Zaad Al-Ma’ad (4: 187). Dasarnya adalah hadits berikut.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.
فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى »
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah berdo’a pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdo’a dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” (HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Ibnul Qayyim dalam Zaad Al Ma’ad (4: 187) berkata, “Do’a ‘yaa hayyu yaa qayyum, bi rahmatika astaghits …’ punya kandungan yang luar biasa.
Sifat hayyu (kehidupan) mengandung makna bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan mengonsekuensikan sifat sempurna tersebut. Sedangkan sifat qayyum mengandung makna seluruh sifat fi’liyah (sifat yang menunjukkan perbuatan Allah).
Oleh karena itu, nama Al-Hayyu Al-Qayyum termasuk dalam nama Allah yang agung (ism Allah Al A’zham) di mana jika seseorang berdo’a dengannya, akan dikabulkan. Jika meminta dengannya, akan diberi.
Kalau disebut Allah memiliki sifat hayat (kehidupan) yang sempurna, maka tentu Allah terlepas dari berbagai cacat (penyakit). Karenanya, penduduk surga mengalami kehidupan yang sempurna yang tidak lagi merasa cemas, susah, sedih, dan kesengsaraan lainnya.
Kalau sifat hayat (kehidupan) tak sempurna, berarti berpengaruh pada perbuatan yang tidak sempurna. Sehingga sifat qayyum pula jadi tidak sempurna. Sifat qayyum yang sempurna (ketidakbergantungan pada makhluk) pasti berasal dari sifat hayat (kehidupan) yang sempurna. Sifat hayyu (kehidupan) yang sempurna menunjukkan adanya sifat lain yang sempurna. Sedangkan sifat qayyum yang sempurna menunjukkan sifat perbuatan yang sempurna.
Karenanya seseorang yang bertawassul dengan sifat hayyu dan qayyum punya pengaruh besar, di mana ia akan dihilangkan dari sifat yang bertentangan dengan sifat kehidupan (seperti dijauhkan dari penyakit, pen.) dan dapat dihilangkan dari sifat jelek lainnya.”
Amalkan doa di atas dan manfaatkan nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum ketika kita memanjatkan do’a. Moga Allah mengabulkan setiap do’a kita. Aamiin, Ya Mujibas Sa-ilin.
Bersambung lagi insya Allah masih dalam tema nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum.
PERASAAN DIKEJAR WAKTU
Terburu-Buru Akhirnya Tidak Dapat
Terburu-buru itu teman nya setan apalagi kalo nyampe ninggalin shalat,maka akan semakin dijauhkan rezkinya...
Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu, bisa jadi ia dihukumi haram mendapatkannya.
Ada suatu kaedah fikih,
مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Siapa yang buru-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukumi haram untuk mendapatkannya.”
Contoh penerapan kaedah:
- Jika khamar (yang dihukumi najis) berubah menjadi cuka dengan menambahkan sesuatu di dalamnya (usaha manusia), maka khamar tersebut dihukumi tidak suci. Beda halnya jika khamar dibiarkan begitu saja, prosesnya berjalan secara natural berubah menjadi cuka, maka dihukumi suci.
- Jika ahli waris terburu-buru membunuh pemberi waris supaya cepat-cepat mendapatkan warisan, maka ia terhalang mendapatkan warisan.
Namun para ulama katakan bahwa hanya sedikit masalah yang masuk dalam kaedah yang disebutkan di atas. Banyak masalah yang tidak masuk dalam kaedah tersebut.
Contoh beberapa masalah yang tidak masuk dalam kaedah di atas:
- Masalah puasa, yaitu jika seseorang minum agar bisa jatuh sakit dan minumnya sebelum masuk Shubuh, lalu benar ia jatuh sakit, maka ia boleh tidak puasa ketika itu.
- Seseorang membatalkan puasa dengan makan dengan sengaja lalu ia berhubungan intim, maka tidak ada kafarah.
- Jika khamar itu menjadi cuka bukan dengan menambahkan suatu zat, namun dengan cara dijemur di bawah terik matahari, maka tetap dihukumi suci.
Tiga contoh masalah di atas menyelisihi kaedah yang disebutkan di awal. Sehingga ada ulama yang membuat kaedah yang lebih bagus:
مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ ، وَلَمْ تَكُنِ المصْلَحَةُ فِي ثُبُوْتِهِ ، عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, selama tidak ada maslahat dengan keberadaannya, maka ia dihukumi haram mendapatkannya.”.
JADI YAKIN AJA ,KALO REZEKI ITU NGGA BAKAL KEMANA DAN NGGA BAKAL HABIS!!!
Minggu, 18 Oktober 2015
SUKSES YANG BENAR-BENAR SUKSES
Konsep Sukses dalam Islam
Ayat ini menjelaskan hakikat sukses sejati, yaitu: Wa man zuhziha ‘anin naari wa adkhalal jannata faqad faaza (dan siapa yang dijauhkan dari siksa nKonsep sukses dalam Islam berbeda dengan konsep sukses yang banyak dipahami masyarakat umum. Dalam pikiran umum, sukses identik dengan kekayaan materi, harta yang banyak, kebebasan finansial, unlimited income, dan seterusnya. Kalau tidak kaya, bukan sukses; sebagaimana kalau hidup miskin, dianggap gagal.
Pada hakikatnya, sukses Islami adalah berhasil mengumpulkan skor pahala sebanyak-banyaknya; dan menghindari poin merah (dosa) sebanyak-banyaknya; sehingga akhirnya di Hari Akhirat berhak mendapat surga. Inilah hakikat sukses Islami yang tidak diakui oleh para motivator, apalagi oleh para sales MLM.
Sukses Itu Mendapat TAUFIQ untuk Merealisasikan Amal Shalih.
Meskipun kaya, kalau pelit berbuat amal baik, dan banyak berbuat dosa; maka kekayaannya menjadi tidak berguna. Meskipun miskin, kalau banyak berbuat baik, bermanfaat bagi kehidupan yang luas; sedikit berbuat dosa-dosa; hasil akhirnya dia akan mendapat surga (jannah).
Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
(Setiap jiwa yang hidup pasti akan mengalami mati, bahwasanya akan dibalasi pahala mereka secara sempurna di Hari Kiamat. Dan siapa yang dijauhkan/diselamatkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah SUKSES. Dan tidaklah kehidupan dunia itu, selain kesenangan yang menipu belaka). [Ali Imran: 185].eraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah SUKSES).Maka sukses dalam Islam adalah At Taufiq. Maksudnya, seseorang mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala untuk mengumpulkan skor pahala sebanyak-banyaknya, dan menghindari poin dosa sebesar-besarnya. Dengan hal itu, dia dimudahkan masuk surga dan dijauhkan dari neraka.
Jika untuk mencapai tujuan itu, dia butuh banyak harta; maka Allah pun memberinya banyak harta. Jika untuk itu, dia butuh kesejahteraan yang sedang-sedang saja; maka dia pun mendapatkan yang sedang-sedang. Jika untuk itu, dia perlu hidup sederhana; maka Allah pun memberinya kesederhanaan.
Jadi kekayaan mengikuti tujuan pahala; bukan sebaliknya. Inilah yang dinamakan Taufiq, yaitu pertolongan Allah kepada seseorang untuk merealisasikan tujuan-tujuan mulia di sisi-Nya.
Untuk mencapai sukses yang seperti ini, Islam memberikan jalan yang terang-benderang. Kiat-kiat sukses itu disebutkan di awal-awal Surat Al Mu’minuun.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)
(Sungguh berjaya orang-orang Mukmin itu, yaitu mereka yang shalatnya khusyuk; mereka meninggalkan hal-hal yang tidak berguna; mereka menunaikan kewajiban zakat; mereka menjaga kemaluannya, kecuali kepada isteri-isteri atau budak yang mereka miliki, karena hal itu tidak tercela; maka siapa yang mencari selain itu, mereka itu melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanat dan janjinya; mereka menjaga shalatnya. Itulah orang-orang yang mewarisi, yaitu mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya). [Al Mu’minuun: 1-11].
Dari ayat-ayat ini dapat disimpulkan beberapa kiat mencapai sukses, yaitu sebagai berikut:
[a]. Menjalankan shalat secara khusyuk. Khusyuk yaitu saat dalam shalat merasa dirinya kelak akan berjumpa Allah dan kembali kepada-Nya.[b]. Meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Dalam hadits disebutkan: Min husnil Islami mar’i tarkuhu maa laa ya’nih (ciri bagusnya keislaman seseorang, dia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya).
[c]. Menunaikan kewajiban zakat. Terutama Zakat Maal, bagi yang kekayaannya mencapai nishab; minimal Zakat Fitrah saat bulan Ramadhan, menjelang hadirnya bulan Syawwal. Kalau tak mampu membayar Zakat Maal, karena harta tak mencapai nishab (ambang minimal), maka bersedekah kepada siapa saja yang membutuhkan.
[d]. Menjaga kemaluan dari perbuatan zina; baik zina besar dalam bentuk hubungan seksual dengan wanita yang diharamkan; maupun zina kecil dalam bentuk mencari kepuasan seksual melalui penglihatan, pendengaran, gerakan tangan, maupun langkah kaki.
[e]. Menjaga amanat dan menunaikan janji. Di awal Surat Al Maa’idah disebutkan: Ya aiyuhalladzina amanu ‘aufuu bil ‘uqud (wahai orang beriman penuhilah akad-akad kalian). Salah satu bentuk menunaikan amanah dan janji, ialah berhati-hati kalau berjanji. Kalau sekiranya tak mampu menjalankan, jangan merasa malu untuk menolak berkomitmen/janji. Kalau mengatakan “insya Allah” dalam hati harus sudah 75 % siap melaksanakan. Bisa saja janji “insya Allah” itu dibatalkan, kalau ada kendala serius (udzur) yang tidak memungkinkan dia melaksanakan janjinya. Harus hati-hati saat mengucapkan “insya Allah”.
[f]. Menjaga Shalat Lima Waktu. Melaksanakan shalat sesuai waktu-waktunya; jangan sering terlambat tanpa alasan, sehingga masuk ke waktu shalat berikutnya. Lebih utama, melaksanakan shalat di awal waktu, secara berjamaah, di masjid. Kalau tak mampu, ya laksanakan shalat sesuai waktunya, jangan terlalu mepet ke waktu berikutnya.
Nah, inilah rahasia sukses secara Islami. Semoga bermanfaat dan mendapatkan hikmah dari Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin.
Jumlah Pengunjung
Diberdayakan oleh Blogger.















