JANGAN LUPA DOA

Jangan takut doa kita tertolak tapi takutlah jika kita sudah tidak diberi hidayah lagi untuk berdoa

YAKINLAH ALLAH ITU ADA

Allah swt. itu tau jika kita leleh,ia bahkan tau kalau itu berat untuk kita hadapi, tapi ingatlah!! allh swt. tidak akan menempatkan kita di dalam keadaan yang tidak sanggup kita hadapi

ALLAH ITU ADIL

Apa yang kita TANAM itulah yang kita PETIK Tuhan..jadikan aku orang yang BAIK agar jaln hidupku juga BAIK :)

JIKA SUDAH TIDAK ADA LAGI BAHU UNTUK KITASANDARI,SELALU ADA LANTAI SEBAGAI TEMPAT UNTUK BERSUJUD

FAJRI ISNANTO X TKJ 1 THE MAKER OF HAPPY

Kunjungi facebook saya FAJRI ISANANTO

Kamis, 12 November 2015

SELESAI SHALAT,BERDOALAH

Tafsir Surat Asy Syarh (4): Selesai Shalat, Berdoalah



Faedah lainnya dari surat Asy-Syarh, setelah selesai dari ibadah atau shalat, diperintahkan untuk berdoa dan terus berusaha menjaga niatan ikhlas karena Allah.

Allah Ta’ala berfirman,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8)

Ibnu Katsir berkata, “Jika engkau telah selesai dari urusan dan kesibukan duniamu, maka lakukanlah ibadah. Semangatlah melakukan yang penting. Murnikanlah niatan dan harapanmu pada Rabbmu.”
Dua hadits ini adalah contoh diperintahkan kita bisa konsen dalam ibadah.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ
Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim no. 560).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ
Jika shalat telah ditegakkan dan makanan sudah siap tersajikan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465)
Mujahid berkata tentang ayat ini, “Jika engkau telah selesai dari urusan duniamu, kerjakanlah shalat, hadaplah Rabbmu.”
Ada juga riwayat dari Mujahid, “Jika engkau telah selesai shalat, tunaikanlah hajat-hajatmu.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Jika engkau telah menunaikan shalat fardhu, tunaikanlah shalat malam.” Dari Ibnu ‘Iyadh berpendapat seperti itu pula.
‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
{ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ } يعني: فِي الدُّعَاءِ
“Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu.
Ada dalil lain yang lebih spesifik,
جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقال : أيُّ الصلاة أفضل ؟ قال : (( جوفُ الليل الأوسط )) ، قال : أيُّ الدُّعاء أسمع ؟ قال: (( دُبر المكتوبات ))
Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Shalat apa yang paling afdhal?” “Shalat di tengah malam”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ditanya kembali, “Doa apa yang paling didengar?” “Doa di dubur shalat wajib (yaitu di akhir shalat wajib, pen.).” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Jami’ ‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 143-144)
Doa berikut dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dubur shalat,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatit dunyaa wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari sikap pengecut di medan perang, dari jeleknya keadaan di masa tua, dari godaan dunia yang menggiurkan dan dari siksa kubur].” (HR. Bukhari no. 2822)
Makna dubur shalat di sini ada beda pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengartikan di akhir shalat sebelum salam. Dan ada pula yang mengartikan setelah shalat. Ini berarti menurut sebagian ulama ada tuntunan berdoa setelah selesai shalat berdasarkan pemahaman ini. Wallahu a’lam bish shawwab.

Perintah untuk Ikhlas

Zaid bin Aslam dan Adh-Dhahak berkata, jika engkau telah selesai dari jihad, maka beribadahlah pada Allah.
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” Maksud ayat ini kata Ats-Tsauri, “Jadikanlah niat dan harapanmu hanya untuk Allah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 599)
Ini berarti harapan dan niatankan kita dalam ibadah hanya untuk Allah, bukan selainnya.

Faedah dari Ayat

Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Kehidupan seorang mukmin tidaklah diisi dengan kebatilan maupun permainan yang melalaikan dari ibadah. Setiap kali ibadah, pasti ada kegiatan bermanfaat lainnya, terus seperti itu.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482)

Referensi:

Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah.
Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar.
Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

WAKTU MUDA YANG SIA-SIA

             
                     Waktu Muda Yang Sia-Sia



Pikiran anak muda itu seperti ini …
  1. Hidup tanpa tujuan dan cita-cita
  2. Hidup hanya ingin bergaul
  3. Hidup hanya ingin mencari pacar
  4. Hidup hanya ingin memuaskan diri
  5. Hidup hanya ingin memamerkan kekayaan
  6. Dikira hidupnya masih panjang

Ingat, Waktu Mudamu Akan Ditanya

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Manfaatkanlah Waktu Mudamu untuk Kebaikan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)
Ghanim bin Qais berkata,
كُنَّا نَتَوَاعَظُ فِي أوَّلِ الإِسْلاَمِ : اِبْنَ آدَم ، اِعْمَل فِي فَرَاغِك قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَفِي شَبَابِكَ لِكِبَرِكَ ، وَفِي صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَفِي دُنْيَاكَ لِآخِرَتِكَ . وَفِي حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu.” (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya’. Dinukil dari Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 387-388).

Tujuan Hidupmu untuk Ibadah

Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz- Dzariyat: 56)
Allah Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madaarijus Salikin, 1: 98). Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman,
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36).
Imam Asy-Syafi’I rahimahullah mengatakan,
لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى
“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”
Ulama lainnya mengatakan,
لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ
“(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1: 98)

Waktumu yang Sia-Sia Sungguh Derita

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaid berkata,
اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا
“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

Kurangi Maksiat Karena Usiamu Terbatas

Karena tak ada satu pun yang yakin, ia bisa hidup terus hingga waktu tua.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)
Apa maksud ibarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas?
Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al-gharib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fath Al-Bari, 18: 224)
Ada juga ibarat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377 dan Ibnu Majah no. 4109, hadits dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Teman Dekatmu Akan Membuatmu Sengsara atau Selamat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2: 344, dari Abu Hurairah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencocoki teman dekatnya. Bahkan kecocokan dengan teman dekat bisa terjadi tanpa disadari.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94)
Semoga membuka kesadaran para pemuda lewat tulisan ini.
Nabi Syu’aib ‘alaihis salam pernah berkata,
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ
Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Hud: 88)
Hanya Allah yang memberi taufik.

Rabu, 28 Oktober 2015

KALIMAT AJAIB DARI YA HAYYU YA QAYYUM

Faedah Luar Biasa dari Nama Allah Al Hayyu Al Qayyum





Ternyata ada faedah luar biasa dari nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum. Apa itu?
Sebagian ulama memasukkan nama Al-Hayyu Al-Qayyum dalam nama Allah yang agung (ism Allah al-a’zham) seperti yang dipilih oleh Ibnul Qayyim dalam Zaad Al-Ma’ad (4: 187). Dasarnya adalah hadits berikut.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.
فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى »

Dari Anas, ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang shalat, kemudian ia berdo’a, “Allahumma inni as-aluka bi-anna lakal hamda, laa ilaha illa anta al-mannaan badii’us samaawaati wal ardh, yaa dzal jalali wal ikram, yaa hayyu yaa qayyum [artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Ya Hayyu Ya Qayyum –Yang Maha Hidup dan Tidak Bergantung pada Makhluk-Nya-].”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah berdo’a pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdo’a dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” (HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Ibnul Qayyim dalam Zaad Al Ma’ad (4: 187) berkata, “Do’a ‘yaa hayyu yaa qayyum, bi rahmatika astaghits …’ punya kandungan yang luar biasa.
Sifat hayyu (kehidupan) mengandung makna bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan mengonsekuensikan sifat sempurna tersebut. Sedangkan sifat qayyum mengandung makna seluruh sifat fi’liyah (sifat yang menunjukkan perbuatan Allah).
Oleh karena itu, nama Al-Hayyu Al-Qayyum termasuk dalam nama Allah yang agung (ism Allah Al A’zham) di mana jika seseorang berdo’a dengannya, akan dikabulkan. Jika meminta dengannya, akan diberi.
Kalau disebut Allah memiliki sifat hayat (kehidupan) yang sempurna, maka tentu Allah terlepas dari berbagai cacat (penyakit). Karenanya, penduduk surga mengalami kehidupan yang sempurna yang tidak lagi merasa cemas, susah, sedih, dan kesengsaraan lainnya.
Kalau sifat hayat (kehidupan) tak sempurna, berarti berpengaruh pada perbuatan yang tidak sempurna. Sehingga sifat qayyum pula jadi tidak sempurna. Sifat qayyum yang sempurna (ketidakbergantungan pada makhluk) pasti berasal dari sifat hayat (kehidupan) yang sempurna. Sifat hayyu (kehidupan) yang sempurna menunjukkan adanya sifat lain yang sempurna. Sedangkan sifat qayyum yang sempurna menunjukkan sifat perbuatan yang sempurna.
Karenanya seseorang yang bertawassul dengan sifat hayyu dan qayyum punya pengaruh besar, di mana ia akan dihilangkan dari sifat yang bertentangan dengan sifat kehidupan (seperti dijauhkan dari penyakit, pen.) dan dapat dihilangkan dari sifat jelek lainnya.”
Amalkan doa di atas dan manfaatkan nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum ketika kita memanjatkan do’a. Moga Allah mengabulkan setiap do’a kita. Aamiin, Ya Mujibas Sa-ilin.
Bersambung lagi insya Allah masih dalam tema nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum.

PERASAAN DIKEJAR WAKTU

Terburu-Buru Akhirnya Tidak Dapat

Terburu-buru itu teman nya setan apalagi kalo nyampe ninggalin shalat,maka akan semakin dijauhkan  rezkinya...


Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu, bisa jadi ia dihukumi haram mendapatkannya.
Ada suatu kaedah fikih,
مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Siapa yang buru-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukumi haram untuk mendapatkannya.”
Contoh penerapan kaedah:
  • Jika khamar (yang dihukumi najis) berubah menjadi cuka dengan menambahkan sesuatu di dalamnya (usaha manusia), maka khamar tersebut dihukumi tidak suci. Beda halnya jika khamar dibiarkan begitu saja, prosesnya berjalan secara natural berubah menjadi cuka, maka dihukumi suci.
  • Jika ahli waris terburu-buru membunuh pemberi waris supaya cepat-cepat mendapatkan warisan, maka ia terhalang mendapatkan warisan.
Namun para ulama katakan bahwa hanya sedikit masalah yang masuk dalam kaedah yang disebutkan di atas. Banyak masalah yang tidak masuk dalam kaedah tersebut.
Contoh beberapa masalah yang tidak masuk dalam kaedah di atas:
  • Masalah puasa, yaitu jika seseorang minum agar bisa jatuh sakit dan minumnya sebelum masuk Shubuh, lalu benar ia jatuh sakit, maka ia boleh tidak puasa ketika itu.
  • Seseorang membatalkan puasa dengan makan dengan sengaja lalu ia berhubungan intim, maka tidak ada kafarah.
  • Jika khamar itu menjadi cuka bukan dengan menambahkan suatu zat, namun dengan cara dijemur di bawah terik matahari, maka tetap dihukumi suci.
Tiga contoh masalah di atas menyelisihi kaedah yang disebutkan di awal. Sehingga ada ulama yang membuat kaedah yang lebih bagus:
مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ ، وَلَمْ تَكُنِ المصْلَحَةُ فِي ثُبُوْتِهِ ، عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, selama tidak ada maslahat dengan keberadaannya, maka ia dihukumi haram mendapatkannya.”. 
          JADI YAKIN AJA ,KALO REZEKI ITU NGGA BAKAL KEMANA DAN NGGA BAKAL HABIS!!!

Minggu, 18 Oktober 2015

SUKSES YANG BENAR-BENAR SUKSES


                Konsep Sukses dalam Islam


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ayat ini menjelaskan hakikat sukses sejati, yaitu: Wa man zuhziha ‘anin naari wa adkhalal jannata faqad faaza (dan siapa yang dijauhkan dari siksa nKonsep sukses dalam Islam berbeda dengan konsep sukses yang banyak dipahami masyarakat umum. Dalam pikiran umum, sukses identik dengan kekayaan materi, harta yang banyak, kebebasan finansial, unlimited income, dan seterusnya. Kalau tidak kaya, bukan sukses; sebagaimana kalau hidup miskin, dianggap gagal.
Pada hakikatnya, sukses Islami adalah berhasil mengumpulkan skor pahala sebanyak-banyaknya; dan menghindari poin merah (dosa) sebanyak-banyaknya; sehingga akhirnya di Hari Akhirat berhak mendapat surga. Inilah hakikat sukses Islami yang tidak diakui oleh para motivator, apalagi oleh para sales MLM.

Sukses Itu Mendapat TAUFIQ untuk Merealisasikan Amal Shalih.
Meskipun kaya, kalau pelit berbuat amal baik, dan banyak berbuat dosa; maka kekayaannya menjadi tidak berguna. Meskipun miskin, kalau banyak berbuat baik, bermanfaat bagi kehidupan yang luas; sedikit berbuat dosa-dosa; hasil akhirnya dia akan mendapat surga (jannah).
Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
(Setiap jiwa yang hidup pasti akan mengalami mati, bahwasanya akan dibalasi pahala mereka secara sempurna di Hari Kiamat. Dan siapa yang dijauhkan/diselamatkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah SUKSES. Dan tidaklah kehidupan dunia itu, selain kesenangan yang menipu belaka). [Ali Imran: 185].eraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah SUKSES).
Maka sukses dalam Islam adalah At Taufiq. Maksudnya, seseorang mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala untuk mengumpulkan skor pahala sebanyak-banyaknya, dan menghindari poin dosa sebesar-besarnya. Dengan hal itu, dia dimudahkan masuk surga dan dijauhkan dari neraka.
Jika untuk mencapai tujuan itu, dia butuh banyak harta; maka Allah pun memberinya banyak harta. Jika untuk itu, dia butuh kesejahteraan yang sedang-sedang saja; maka dia pun mendapatkan yang sedang-sedang. Jika untuk itu, dia perlu hidup sederhana; maka Allah pun memberinya kesederhanaan.
Jadi kekayaan mengikuti tujuan pahala; bukan sebaliknya. Inilah yang dinamakan Taufiq, yaitu pertolongan Allah kepada seseorang untuk merealisasikan tujuan-tujuan mulia di sisi-Nya.
Untuk mencapai sukses yang seperti ini, Islam memberikan jalan yang terang-benderang. Kiat-kiat sukses itu disebutkan di awal-awal Surat Al Mu’minuun.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)
(Sungguh berjaya orang-orang Mukmin itu, yaitu mereka yang shalatnya khusyuk; mereka meninggalkan hal-hal yang tidak berguna; mereka menunaikan kewajiban zakat; mereka menjaga kemaluannya, kecuali kepada isteri-isteri atau budak yang mereka miliki, karena hal itu tidak tercela; maka siapa yang mencari selain itu, mereka itu melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanat dan janjinya; mereka menjaga shalatnya. Itulah orang-orang yang mewarisi, yaitu mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya). [Al Mu’minuun: 1-11].
Dari ayat-ayat ini dapat disimpulkan beberapa kiat mencapai sukses, yaitu sebagai berikut:
[a]. Menjalankan shalat secara khusyuk. Khusyuk yaitu saat dalam shalat merasa dirinya kelak akan berjumpa Allah dan kembali kepada-Nya.
[b]. Meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Dalam hadits disebutkan: Min husnil Islami mar’i tarkuhu maa laa ya’nih (ciri bagusnya keislaman seseorang, dia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya).
[c]. Menunaikan kewajiban zakat. Terutama Zakat Maal, bagi yang kekayaannya mencapai nishab; minimal Zakat Fitrah saat bulan Ramadhan, menjelang hadirnya bulan Syawwal. Kalau tak mampu membayar Zakat Maal, karena harta tak mencapai nishab (ambang minimal), maka bersedekah kepada siapa saja yang membutuhkan.
[d]. Menjaga kemaluan dari perbuatan zina; baik zina besar dalam bentuk hubungan seksual dengan wanita yang diharamkan; maupun zina kecil dalam bentuk mencari kepuasan seksual melalui penglihatan, pendengaran, gerakan tangan, maupun langkah kaki.
[e]. Menjaga amanat dan menunaikan janji. Di awal Surat Al Maa’idah disebutkan: Ya aiyuhalladzina amanu ‘aufuu bil ‘uqud (wahai orang beriman penuhilah akad-akad kalian). Salah satu bentuk menunaikan amanah dan janji, ialah berhati-hati kalau berjanji. Kalau sekiranya tak mampu menjalankan, jangan merasa malu untuk menolak berkomitmen/janji. Kalau mengatakan “insya Allah” dalam hati harus sudah 75 % siap melaksanakan. Bisa saja janji “insya Allah” itu dibatalkan, kalau ada kendala serius (udzur) yang tidak memungkinkan dia melaksanakan janjinya.  Harus hati-hati saat mengucapkan “insya Allah”.
[f]. Menjaga Shalat Lima Waktu. Melaksanakan shalat sesuai waktu-waktunya; jangan sering terlambat tanpa alasan, sehingga masuk ke waktu shalat berikutnya. Lebih utama, melaksanakan shalat di awal waktu, secara berjamaah, di masjid. Kalau tak mampu, ya laksanakan shalat sesuai waktunya, jangan terlalu mepet ke waktu berikutnya.
Nah, inilah rahasia sukses secara Islami. Semoga bermanfaat dan mendapatkan hikmah dari Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin.

Minggu, 02 Agustus 2015

BERSENTUHAN DENGAN YANG BUKAN MAHRAM

HUKUM BERSENTUHAN SETELAH BERWUDHU

Bersentuhan dengan Lawan Jenis setelah Berwudhu
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Ustadz, mohon detail tentang dalil/hadist, bahwa setelah ambil wudhu, tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis, dan bagaimana dengan kondisi bila menunaikan haji,dan melakukan salat di sana, bagaimana hukumnya saat mungkin bersentuhan dengan lawan jenisnya (setelah wudhu). Jazakallah khoiron
Wassalamu 'alaikum wr. wb.
Jawaban :
Assalamu `alaikumwarahmatullahi wabarakatuh
Dalam daftar hal-hal yang membatalkan wudhu, sentuhan kulit secara langsung antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, termasuk masalah yang dipermasalahkan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa sentuhan itu membatalkan wudhu` dan sebagian mengatakan tidak.
Sebab perbedaan pendapat mereka didasarkan pada penafsiran ayat Al-Quran yaitu:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (QS. An-Nisa: 23)
a. Pendapat yang Membatalkan
Sebagian ulama mengartikan kata MENYENTUH sebagai kiasan yang maksudnya adalah jima` (hubungan seksual). Sehingga bila hanya sekedar bersentuhan kulit, tidak membatalkan wuhu`.
Ulama kalangan As-Syafi`iyah cenderung mengartikan kata MENYENTUH secara harfiyah, sehingga menurut mereka sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu membatalkan wudhu`.
Menurut mereka, bila ada kata yang mengandung dua makna antara makna hakiki dengan makna kiasan, maka yang harus didahulukan adalah makna hakikinya. Kecuali ada dalil lain yang menunjukkan perlunya menggunakan penafsiran secara kiasan.
Dan Imam Asy-Syafi`i nampaknya tidak menerima hadits Ma`bad bin Nabatah dalam masalah mencium.
Namun bila ditinjau lebih dalam pendapat-pendapat di kalangan ulama Syafi`iyah, maka kita juga menemukan beberapa perbedaan. Misalnya, sebagian mereka mengatakan bahwa yang batal wudhu`nya adalah yang sengaja menyentuh, sedangkan yang tersentuh tapi tidak sengaja menyentuh, maka tidak batal wudhu`nya.
Juga ada pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan lawan jenis non mahram dengan pasangan (suami istri). Menurut sebagian mereka, bila sentuhan itu antara suami istri tidak membatalkan wudhu`.
b. Pendapat yang Tidak Membatalkan
Dan sebagian ulama lainnya lagi memaknainya secara harfiyah, sehingga menyentuh atau bersentuhan kulit dalam arti pisik adalah termasuk hal yang membatalkan wudhu`. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan juga semua salaf dari kalangan shahabat.
Sedangkan Al-Malikiyah dan jumhur pendukungnya mengatakan hal sama kecuali bila sentuhan itu dibarengi dengan syahwat (lazzah), maka barulah sentuhan itu membatalkan wudhu`.
Pendapat mereka dikuatkan dengan adanya hadits yang memberikan keterangan bahwa Rasulullah SAW pernah menyentuh para istrinya dan langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu` lagi.
Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah ra. dari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu`”. Lalu ditanya kepada Aisyah,”Siapakah istri yang dimaksud kecuali anda?” Lalu Aisyah tertawa. (HR. Turmuzi Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).
Wallahu a`lam bishshawab. 
wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
‘SEMOGA BERMANFAAT ‘
JJJ

Jumlah Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.